• Home
  • Trendnet
  • Ironi Media Sosial: Ladang Pertemanan yang Berubah Jadi Ladang Hoax

Ironi Media Sosial: Ladang Pertemanan yang Berubah Jadi Ladang Hoax

Oleh: Redaksi
Sabtu, 26/05/2018 15:28 WIB
Dibaca: 82 kali
Foto: pixabay.com

JAKARTA - “Media sosial tuh dulu enggak aneh-aneh. Nilai fungsinya masih dapat, enggak kayak sekarang,” pernyataan tersebut dilontarkan oleh Rusti, pelajar kelas 12 dari Temanggung, Jawa Tengah.  

Namun, semenjak ramai pemilihan presiden pada 2014 silam, wajah media sosial yang semula hanya untuk bersenang-senang dan menambah jejaring teman, kemudian berubah layaknya arena pertarungan bagi kubu dengan pandangan politik yang beda. Media sosial tak ubahnya lahan subur untuk menghujat, provokasi dan black campaign.

“Waktu ramai kampanye Pilpres, gue banyak nge-unfollow teman-teman yang terlalu vokal membela salah satu paslon. Pretensius banget, malesin,” curhat Dilla, yang bekerja sebagai Marketing Officer di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Padahal sebelumnya, media sosial masih terbilang ‘ramah’ dan menjadi wadah untuk menambah jejaring pertemanan meski hanya lewat dunia maya.

“Dulu media sosial masih seru, soalnya selain nambah teman, gue juga bisa ketemu teman lama gue,” ujarnya.

Lebih dari itu, kehadiran media sosial nyatanya enggak hanya menambah teman dan menjalin kembali hubungan dengan teman lama, tapi juga medium untuk mendapatkan pacar lho, guys! Seperti yang dialami oleh Audrey.

Cerita bermula dari seorang cowok yang tiba-tiba mengirimkan request untuk mem-follow Audrey di Twitter. Audrey tidak mengenali siapa cowok ini, namun dia tetap approve permintaan follow dari cowok misterius ini.

“Gue kan enggak tahu tuh dia siapa, terus username-nya juga sok pake Bahasa Spanyol artinya ganteng, malesin banget awalnya. Tapi setelah gue approve, dia kirim direct message (DM) ke gue,” tutur Audrey.

Dari percakapan lewat DM tersebut, akhirnya mereka lanjut berkomunikasi via WhatsApp. Setelah intens berkomunikasi, singkat cerita, Audrey dan cowok yang dia kenal lewat Twitter itu kini telah berpacaran selama lima tahun. (Well, thanks to Twitter and WhatsApp!)

Sebagaimana hidup, media sosial juga bersifat dinamis. Namun kedinamisan tersebut tidak melulu membawa dampak baik. Contohnya, demi popularitas dan viral, seseorang rela melakukan apa saja. Mempertontonkan kebodohan, ujaran kebencian, hingga hoax seringkali kita temui tersebar luas di media sosial sekarang.

Konten-konten negatif tersebut justru mendapat tempat di masyarakat kita. Fokus dan perhatian masyarakat banyak teralih ke konten tersebut, tak terkecuali soal hoax. Namun, bukannya mengecek kembali kebenarannya dan meredam konflik, hoax tersebut semakin ramai oleh komentar netizen.

“Lucu liat netizen tuh, saling hujat. Jempolnya pada ‘tajam’,” kelakar Rusti sarkastis.

Dikutip dari Popular Science, hoax memang menyebar lebih cepat daripada berita yang sebenarnya. Peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa kebanyakan orang yang mendapatkan informasi dari media sosial tidak memikirkan dari mana cerita atau berita itu berasal.

“Fakta sederhana dari masalah (hoax) ini adalah otak kita hanya ingin mempercayai fakta yang sesuai dengan sistem kepercayaan kita,” ungkap Soroush Vosoughi, salah satu anggota penelitian tersebut.

Lantas, agar kita dapat menghalau konten-konten negatif termasuk hoax, ada baiknya sebelum share sesuatu, cek dulu kebenarannya. Contohnya, kamu bisa membandingkan berita yang satu dengan media yang lain. Apakah berita tersebut diperkuat dengan data yang terbukti akurat, atau tidak.

Menjaga hati dan kepala tetap dingin saat menghadapi isu atau konten negatif adalah hal penting untuk menjaga kewarasan. Seandainya, kamu menemukan postingan berupa hasutan bernada provokatif, tak perlu tersulut emosi.

“Komen pakai kata-kata kasar juga bisa berimbas buruk ke diri kita. Sudah bikin malu, plus memperkeruh suasana juga. Lebih baik disikapi dengan bijak aja,” tegas Audrey.

Daripada ribut enggak karuan di media sosial, mending kamu ajak main teman kamu. Asalkan, mainnya tetap sportif, dan jangan main perasaan. Kesal boleh, tapi awas, jangan baper.

Sumber: kumparan.com

T#g:HoaksMedia SosialMilenial
Berita Terkait
  • Rabu, 06/06/2018 11:46 WIB

    APTISI: Kemristekdikti akan Kewalahan Awasi HP Mahasiswa

    JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Budi Djatmiko menilai, langkah pemerintah melakukan pengawasan dan pendataan terhadap nomor telepon seluler dan media sosial mi

  • Rabu, 06/06/2018 10:01 WIB

    Kemristekdikti akan Awasi Nomor HP dan Akun Medsos Mahasiswa

    JAKARTA - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengungkapkan, akan melakukan monitoring kepada para dosen dan mahasiswa menyusul maraknya temuan radikalisme d

  • Kamis, 24/05/2018 18:45 WIB

    Facebook Minta Akademisi Ukur Dampak Misinformasi di Fitur News Feed

    JAKARTA - Facebook meminta akademisi untuk mengukur volume dan efek dari misinformasi pada platform-nya, ungkap media sosial tersebut yang dimuat The Verge. Langkah yang diambil Facebook beberapa bul

  • Rabu, 23/05/2018 10:24 WIB

    MenPAN-RB: Usut Penyebar Hoaks Penerimaan CPNS

    JAKARTA - Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) mengingatkan warga Negara Indonesia untuk waspada terhadap informasi bohong atau hoaks terkait penerimaan CPNS

  • Selasa, 22/05/2018 14:30 WIB

    Isi Lengkap Edaran Tata Cara PNS Gunakan Media Sosial

    JAKARTA - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Asman Abnur pada 21 Mei 2018 telah menandatangani Surat Edaran Nomor 137 Tahun 2018 tentang Penyebaran Informasi Melalui

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2018 wartaaceh.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir