• Home
  • Ragam
  • Menimbang Baik Buruk Shalat Jumat di Tengah Corona

Menimbang Baik Buruk Shalat Jumat di Tengah Corona

Oleh: Redaksi
Kamis, 19/03/2020 18:22 WIB
Dibaca: 113 kali

WartaAceh.com - Shalat Jumat adalah aktivitas yang kerap dilaksanakan dengan melibatkan puluhan bahkan ribuan orang. Di saat wabah virus corona melanda, keputusan namun harus dibuat demi mencegah penyebaran virus. Yakni dengan mengganti shalat di masjid menjadi di rumah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah mengeluarkan fatwa yang tidak menganjurkan pelaksanaan shalat Jumat di masjid. Khususnya di daerah yang rawan penyebaran virus corona.

Meski tidak ke masjid, ada sejumlah opsi yang bisa dilakukan umat Islam dalam pelaksanaan shalat Jumat. Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis mengatakan, di tengah wabah corona, umat Islam bisa memilih pendapat dari empat imam mazhab terkait pelaksanaan shalat Jumat.

"Dalam kondisi mewabahnya Covid-19 ini kita dapat memilih pendapat imam mazhab yang lebih memungkinkan tentang syarat sahnya shalat Jumat harus berjamaah," ujar Kiai Cholil.

Dia pun menjelaskan pendapat ulama tentang jumlah jamaah shalat Jumat. Menurut mazhab Hanafi, kata dia, syarat sahnya shalat Jumat harus berjamaah yang sedikitnya terdapat tiga orang dan satu imam. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka umat Islam bisa melaksanaan shalat Jumat di rumah untuk menghindari bahaya virus corona.

"Dan ketiganya tidak harus hadir saat khutbah, yang penting di antara jamaah itu meskipun hanya seorang ada yang mendengarkan khutbah. Shalat Jumatnya pun tak harus di masjid," ucap Kiai Cholil.

Sementara itu, menurut madzhab Maliki, shalat Jumat harus dilaksanakan secara berjamaah yang sedikitnya 12 orang dan satu imam. Syaratnya, semua jamaahnya adalah orang yang wajib shalat Jumat, penduduk setempat, dan semuanya harus hadir dari awal khutbah sampai selesai pelaksanaan shalat Jumat.

Sedangkan menurut mazhab Syafi’i, shalat Jumat dilaksanakan oleh jamaah sedikitnya 40 orang meskipun sekalian dengan imamnya. Semua jamaah harus penduduk setempat yang wajib melaksanakan shalat Jumat. Dan semuanya harus hadir dari awal khutbah sampai selesai pelaksanaan shalat Jumat.

Menurut Kiai Cholil, pendapat madzhab Hambali hampir sama dengan pendapat mazhab Syafi’i. "Semua pendapat imam mazhab ini memungkinkan untuk diikuti asalkan tidak karena talfiq (mencampur pendapat ulama mazhab dengan tujuan cari kemudahan atau menggampangkan hukum Islam)," kata Kiai Cholil. 

Dengan melihat kondisi di Jakarta sekarang ini, tambah dia, maka umat Islam juga dapat memilah tempat mana yang rawan Covid-19 sehingga boleh meninggalkan shalat Jumat demi keselamatan diri dan masyarakat.

"Lalu seperti daerah lain yang masih steril dari Covid-19 maka wajib melaksanakan shalat Jumat seraya ikhtiar dan berhati-hati," jelas Kiai Cholil.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar Smith mengimbau umat Islam mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi wabah. Serta mengimbau mematuhi Fatwa MUI tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadinya wabah virus corona.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan orang dalam pengawasan (ODP) terinfeksi Covid-19 haram hukumnya menghadiri acara keagamaan yang sifatnya berjamaah. Ia berpotensi menularkan virus kepada orang lain.

"ODP sebaiknya memang tidak menghadiri acara-acara berjamaah, karena dia itu pasti akan menularkan kepada orang lain. Bukan saja tidak boleh menghadiri tempat berjamaah, tetapi dilarang, bahkan diharamkan, sebab membahayakan," kata Wapres Ma'ruf Amin dalam keterangan yang diterima, di Jakarta, Kamis (19/3/2020).

Merujuk pada fatwa MUI, Ma'ruf Amin yang juga Ketua Umum non-aktif MUI mengatakan muslim yang sakit diare saja tidak dibolehkan beribadah di masjid karena kotorannya bisa menjadi najis.

"Ada contoh, orang yang misalnya buang-buang air, dia tidak usah datang ke masjid, bahkan Jumat pun dia tidak boleh, bahkan diharamkan. Sebab kalau dia datang ke masjid kemudian buang air kemudian masjidnya menjadi najis, kan menyebarkan najis ke mana-mana," ujarnya pula.

Karena itu, Wapres mengimbau kepada umat Islam untuk menjaga kesehatan dan kebersihan diri menjelang bulan puasa dan menghindari acara-acara Ramadhan yang sifatnya berjamaah.

"Itu baru kotoran, yang bisa menyebarkan najis. Kalau orang terjangkit Corona ini pergi ke masjid, itu akan menimbulkan orang lain terpapar, bahkan bisa membawa kematian," katanya lagi.

Wapres mengatakan ODP justru merupakan kategori paling berbahaya daripada pasien dalam perawatan (PDP) maupun pasien positif. Hal itu disebabkan ODP biasanya tidak menyadari dirinya sudah terpapar Covid-19, sehingga potensi menularkan ke orang lain cukup tinggi dibandingkan PDP dan pasien positif yang diisolasi.

"Sebenarnya orang yang sudah isolasi, itu sudah jelas penanganannya aman karena tidak keluyuran ke mana-mana. Justru yang berbahaya itu orang-orang yang dalam pengawasan, karena berpotensi untuk membunuh orang lain," ujarnya pula.


Meski tidak ke masjid, ada sejumlah opsi yang bisa dilakukan umat Islam dalam pelaksanaan shalat Jumat. Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis mengatakan, di tengah wabah corona, umat Islam bisa memilih pendapat dari empat imam mazhab terkait pelaksanaan shalat Jumat.

"Dalam kondisi mewabahnya Covid-19 ini kita dapat memilih pendapat imam mazhab yang lebih memungkinkan tentang syarat sahnya shalat Jumat harus berjamaah," ujar Kiai Cholil.

Dia pun menjelaskan pendapat ulama tentang jumlah jamaah shalat Jumat. Menurut mazhab Hanafi, kata dia, syarat sahnya shalat Jumat harus berjamaah yang sedikitnya terdapat tiga orang dan satu imam. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka umat Islam bisa melaksanaan shalat Jumat di rumah untuk menghindari bahaya virus corona.

"Dan ketiganya tidak harus hadir saat khutbah, yang penting di antara jamaah itu meskipun hanya seorang ada yang mendengarkan khutbah. Shalat Jumatnya pun tak harus di masjid," ucap Kiai Cholil.

Sementara itu, menurut madzhab Maliki, shalat Jumat harus dilaksanakan secara berjamaah yang sedikitnya 12 orang dan satu imam. Syaratnya, semua jamaahnya adalah orang yang wajib shalat Jumat, penduduk setempat, dan semuanya harus hadir dari awal khutbah sampai selesai pelaksanaan shalat Jumat.

Sedangkan menurut mazhab Syafi’i, shalat Jumat dilaksanakan oleh jamaah sedikitnya 40 orang meskipun sekalian dengan imamnya. Semua jamaah harus penduduk setempat yang wajib melaksanakan shalat Jumat. Dan semuanya harus hadir dari awal khutbah sampai selesai pelaksanaan shalat Jumat.

Menurut Kiai Cholil, pendapat madzhab Hambali hampir sama dengan pendapat mazhab Syafi’i. "Semua pendapat imam mazhab ini memungkinkan untuk diikuti asalkan tidak karena talfiq (mencampur pendapat ulama mazhab dengan tujuan cari kemudahan atau menggampangkan hukum Islam)," kata Kiai Cholil.

Dengan melihat kondisi di Jakarta sekarang ini, tambah dia, maka umat Islam juga dapat memilah tempat mana yang rawan Covid-19 sehingga boleh meninggalkan shalat Jumat demi keselamatan diri dan masyarakat. "Lalu seperti daerah lain yang masih steril dari Covid-19 maka wajib melaksanakan shalat Jumat seraya ikhtiar dan berhati-hati," jelas Kiai Cholil.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar Smith mengimbau umat Islam mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi wabah. Serta mengimbau mematuhi Fatwa MUI tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadinya wabah virus corona.

Habib Zen mengatakan, umat manusia saat ini tengah dihadapkan pada ujian bersama berupa penyebaran wabah Covid-19 di berbagai negara. Termasuk di Indonesia.

Ia menerangkan, wabah dalam sejarah umat manusia telah beberapa kali terjadi dan menimbulkan dampak yang tidak ringan. Pada masa Baginda Nabi Muhammad SAW, wabah juga pernah terjadi.

"Kita sebagai orang yang beriman tentu meyakini bahwa semua datang dari Allah SWT dan untuk menghindarinya kita diwajibkan untuk berikhtiar semaksimal mungkin," kata Habib Zen.

Ia menyampaikan, Rabithah Alawiyah mengimbau umat agar mengikuti hal-hal yang telah diajarkan oleh Islam melalui Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi wabah. Yaitu melakukan karantina diri secara sukarela terutama bagi mereka yang berpotensi untuk menularkan dan tertular.

Umat Islam juga diimbau untuk menaati semua instruksi dan anjuran medis yang diberikan oleh pemerintah pusat dalam hal ini gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, serta gubernur dan para kepala daerah lainnya. Rabithah Alawiyah juga mengajak seluruh umat Islam di Indonesia agar mematuhi Fatwa MUI terkait pelaksanaan ibadah selama pandemik Covid-19.

"Kita hendaknya tidak menganggap ringan wabah ini dan segera mendisiplinkan diri dalam hal kebersihan diri dan lingkungan. Selalu memperbaharui wudhu dan menjalankan sunah Nabi terkait kebersihan, Insya Allah dapat membantu menghindarkan diri dari virus corona tersebut," ujarnya.

Habib Zen menambahkan, Rabithah Alawiyah menganjurkan selain melakukan ikhtiar yang maksimal dalam menghindari wabah Covid-19, juga berdoa memohon agar wabah ini segera berlalu dan berdzikir memuji kebesaran Allah SWT. Yakini ada hikmah besar di balik semua ujian yang diturunkan-Nya saat ini. "Sekarang saatnya kita menguji ketabahan dan keimanan kita," ujarnya.

Sekretaris Fraksi PPP Achmad Baidowi menanggapi pernyataan sejumlah pemuka agama yang justru mengajak ke masjid. Ajakan tersebut terkait dengan imbauan pengurangan aktivitas di masjid oleh MUI.

"Terbitnya fatwa MUI yang meniadakan shalat Jumat maupun shalat berjamaah di masjid untuk daerah yang terkena virus corona harus dimaknai dalam konteks kedaruratan yang itu diiperbolehkan dalam Islam," kati Baidowi.

Baidowi menyoroti kaidah 'ushul fiqh "dar'ul mafasid muqaddamu 'ala jalbil masholih' yang artinya mencegah kemudaratan diutamakan dibanding mengambil manfaat dari sesuatu. Imbauan MUI soal pembatasan kegiatan di masjid, kata Baidowi, lebih mengutamakan mencegah perluasan penyebaran Covid-19 dibanding mengambil manfaat silaturahmi.

Baidowi menekankan, mencegah penyebaran penyakit tidak bisa ditunda. Sementara shalat berjamaah masih bisa dilakukan di rumah, memakmurkan masjid pun masih bisa dilakukan saat situasi sudah kondusif.

Ia melanjutkan, imbauan menghindari tempat ibadah secara bersama-sama dalam waktu sementara pun tidak hanya dilakukan umat Islam Indonesia. Arab Saudi pun bahkan menutup umroh, menghindari shalat berjamaah. Tidak hanya Islam, tetapi imbauan serupa dilakukan juga umat agama lain.

"Bahkan ibadah di Vatikan, di Betlehem, di gereja-gereja, juga ditutup. Prinsip pencegahan itu juga harus diresapi secara rasional bukan emosional. Tidak ada kaitan dengan Islam phobia, karena di era Sahabat Nabi pun juga pernah terjadi," jelas Baidowi.


Berdasarkan data terbaru, ada 309 kasus positif corona di Indonesia. Dari total kasus, 25 meninggal dan 15 sembuh.  Predikat sembuh didapat setelah pasien mendapat hasil negatif dalam dua kali pemeriksaan laboratorium. 

"Beberapa kasus meninggal diketahui pada rentang usia 45-65 tahun. Ada satu kasus pada usia 37 tahun. Kalau diperhatikan, hampir seluruhnya ada penyakit pendahulu, terutama diabetes, hipertensi, dan jantung kronis. Beberapa juga penyakit paru obstruktif," jelas Juru Bicara Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto.

Penambahan kasus positif pada hari ini juga tersebar nyaris merata di beberapa provinsi di Indonesia. Di antaranya, Banten bertambah 10 orang menjadi 27 kasus positif Covid-19, DI Yogyakarta bertambah 2 orang menjadi total 5 kasus, DKI Jakarta bertambah 52 orang dengan jumlah kasus 210 orang, dan Jawa Barat bertambah 2 orang dengan jumlah 26 orang.

Kemudian Jawa Tengah mencatatkan penambahan 4 orang positif Covid-19 sehingga total ada 12 kasus, Jawa Timur bertambah 1 orang dengan total 9 orang, Kalimantan Timur bertambah 2 orang sehingga total 3 kasus, Kepulauan Riau bertambah 2 orang sehingga total 3 kasus, Sumatra Utara bertambah 1 orang dengan jumlah kasus 2 orang, dan Sulawei Tenggara bertambah 3 kasus sehingga total ada 3 kasus positif Covid-19.

Lalu ada Sulawesi Selatan yang juga mencatatkan penambahan 2 orang positif Covid-19 dengan total 2 kasus dan Provinsi Riau bertambah 1 orang sehingga jumlah kasus positif ada 2 orang.

Sumber: republika.co.id

Tag:cegah coronafatwa muifatwa ulamashalat jumatvirus corona
Berita Terkait
  • Kamis, 21/05/2020 14:24 WIB

    Masjid Baiturrahman Gelar Salat Id dengan Protokol Kesehatan

    BANDA ACEH - Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh tetap melaksanakan salat Idul Fitri 1441 Hijriah. Pemerintah Aceh meminta jemaah menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penyebaran virus Corona

  • Kamis, 21/05/2020 10:20 WIB

    Dilarang Mudik, ASN Aceh Absen Online via Video Call 2 Kali Sehari saat Lebaran

    BANDA ACEH - Pemerintah Provinsi Aceh melarang mudik Aparatur Sipil Negara (ASN) serta Tenaga Kontrak (TK) demi mencegah penyebaran virus Corona. Pemantauan keberadaan mereka akan dilakukan atasan lew

  • Sabtu, 16/05/2020 19:20 WIB

    Perangkat Gampong Diminta Laksanakan Instruksi Menteri Desa Dalam Penyaluran BLT

    BANDA ACEH - Lembaga Gerakan Titipan Rakyat (Getar) Aceh meminta semua perangkat gampong agar menindaklanjuti Instruksi Menteri Desa agar segera percepat penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (B

  • Jumat, 15/05/2020 18:04 WIB

    Wow, Rekor Aceh 9 Hari Berturut-turut Nihil Kasus Corona

    JAKARTA - Pemerintah terus melakukan pembaruan data kasus Corona di seluruh Indonesia. Kabar baiknya, dalam sepekan ke belakang, Provinsi Aceh memegang rekor dengan catatan sembilan hari berturut-turu

  • Jumat, 15/05/2020 14:38 WIB

    MPU: Boleh Salat Id di Masjid dan Lapangan

    BANDA ACEH - Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh mengizinkan warga menggelar salat Idul Fitri (Id) 1 Syawal 1441 Hijriah secara berjamaah, baik di masjid maupun di tempat-tempat terbuka seperti d

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2020 wartaaceh.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir