• Home
  • RAGAM
  • Heboh Listrik Kedondong di Aceh Timur, Ternyata Begini Faktanya

Heboh Listrik Kedondong di Aceh Timur, Ternyata Begini Faktanya

Oleh: Redaksi
Senin, 22/05/2017 20:07 WIB
Dibaca: 354 kali
Foto: tempo.co

ACEH TIMUR - Listrik kedondong tak pernah menyala di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jerning, Kabupaten Aceh Timur. Pekan lalu, desa yang berjarak 512 kilometer dari Kota Banda Aceh ini dikabarkan telah tersambung listrik yang bersumber dari pohon kedondong (Spondias dulcis forst) buatan Naufal Raziq, 15 tahun, siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Langsa.

Faktanya, desa di pedalaman dengan penduduk 114 kepala keluarga yang berada di hulu Sungai Tamiang itu belum menikmati listrik dari pihak manapun.

Di sana justru masih banyak warga yang menggunakan lampu teplok. Beruntung bagi yang memiliki sedikit uang, mereka bisa membeli mesin genset merek Dompeng bersuara parau. Ketika Tempo mengunjungi desa itu Sabtu pekan lalu, memang bunyi mesin begitu memekakkan telinga.

Dong...dong...dong! Suara mesin merek Dongfeng itu menyala mulai sore hari, mengalirkan listrik ke beberapa rumah warga. Ada beberapa rumah yang masih gelap, tapi tak lama kemudian lampu teplok menyala di sana. Di desa itu, pancaran cahaya dari lampu teplok berusaha mengintip dari celah-celah dinding kayu yang telah longgar.

"Ya, beginilah nasib kami. Yang jelas, kabar di luar itu tidak benar," kata Hasbi, 53 tahun, sambil menghelas napas, kepada Tempo, Sabtu malam pekan lalu.

Semakin malam, mesin diesel berkekuatan 12 PK milik warga desa pemilik kios kelontong itu kian mereda. Malam kian larut di Desa Tampur Baloh itu. Hasbi masih terus bercerita tentang listrik yang tak pernah mengunjungi desanya sejak 2005.

Sekitar 11 tahun di tengah kegalauan hidup tanpa listrik, pada Juni 2016, staf Pertamina EP Rantau Field datang ke desa Hasbi. Orang Pertamina tersebut menawarkan listrik yang bersumber dari pohon kedondong yang biasa ditanam untuk batas pagar kebun warga yang tinggal di sepanjang pesisir Aceh.

Energi listrik yang mendadak heboh dan menghiasi media massa nasional ini pertama kali ditemukan oleh Naufal Raziq saat memenangkan lomba teknologi tepat guna yang diselenggarakan Balai Pemberdayaan Masyarakat Aceh (BPM) Aceh. Inovasi energi hijau itu disambut baik Pertamina EP Rantau Field dalam program corporate social resposibility (CSR) untuk warga Desa Tampur Paloh, yang berdekatan dengan tambang minyak Pertamina itu.

Tanpa menunggu lama, Pertamina memasok sejumlah bibit kedondong ke pelabuhan Sungai di Desa Batu Sumbang. Pelabuhan kecil ini merupakan tempat bersandar perahu boat yang siap mengankut barang dan warga dari dan ke Tampur Paloh. Setelah besar, pohon kedongdong itu dibor dengan ukuran bulatan satu inci dan kedalaman sekitar 14 sentimeter untuk tempat besi tipis dan besi kalpanis berlapis kain.

Hasbi menunjukkan langsung posisi pohon kedondong listrik yang heboh dibicarakan. Ujung kabel yang tersambung dengan ujung besi tersebut lalu disambungkan ke elektroda paralel yang dipasang dengan pola seri ke lubang elektroda lainnya. Elektroda adalah konduktor listrik.

Arus listrik dialirkan dari pohon kedondong ke alat penampung bernama inverter DC sebelum dikirim ke lampu. Sekadar informasi, inverter DC adalah alat yang bisa mengubah arus DC (searah) menjadi AC (arus bolak-balik).

"Awal kami ya jelas senang. Tapi saat dites, hanya satu rumah yang mau hidup," keluh Hasbi, yang juga menjadi imam di desa. "Sebentar saja hidupnya dengan kekuatan satu lampu, tapi itu biasanya hidup kalau ada kunjungan para petinggi Pertamina dan pemerintah kabupaten. Sepulang mereka tak hidup lagi."

Sejumlah warga lain yang Tempo temui mengatakan bahwa Pertamina EP meminta warga untuk menambahkan pohon kedondong hutan di sekitar desa. Sebatang pohon diberi imbalan jasa Rp 25 ribu. Namun, warga menolak permintaan tersebut. Alasannya, listrik kedondong tidak begitu berdampak bagi kehidupan mereka. Malah, dengan adanya dana desa, warga akan menyiapkan anggaran untuk membangun pembangkit tenaga listrik dari potensi air terjun yang ada di sekitar desa.

"Kami sekarang memang diterangi listrik. Bukan dari listrik kedondong, tapi dari mesin genset yang berbunyi dong...dong...dong," kata Hasbi sambil tertawa. Tawanya itu menggema ke sekitar, ke sela-sela pohon kedondong yang tak mampu menghasilkan listrik sama sekali.

 

Sumber: tempo.co

T#g:Aceh TimurListrik KedongdongNaufal Raziq
Banner Affiliate Cloudmediabiz
Berita Terkait
  • Senin, 19/06/2017 20:00 WIB

    Napi Kabur, Polres Aceh Timur akan Periksa Petugas Jaga Rutan Idi

    ACEH TIMUR - Kapolres Aceh Timur, AKBP Rudi Purwiyanto, S.I.K, M. Hum, Minggu (18/06/2017), mengatakan dirinya memastikan pihaknya akan memeriksa petugas Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Idi, terkait t

  • Minggu, 11/06/2017 16:19 WIB

    Warga Ranto Peureulak Resah, Sudah 11 Lembu Dimangsa Harimau

    ACEHTIMUR - Sebanyak 11 ekor lembu (sapi) milik warga desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak dimangsa Harimau selama kurun waktu dua pekan terakhir. "Lembu itu saya tempatkan di kaw

  • Sabtu, 13/05/2017 08:10 WIB

    Disambar Bensin, Dua Rumah Terbakar di Idi Tunong

    ACEH TIMUR - Dua rumah berbahan kayu ludes diamuk sijago merah di Dusun Palang Paleng, Desa Senebok Jalan, Kecamatan Idi Tunong, Kabupaten Aceh Timur pada Jumat (12/5/2017) pukul 12.00 WIB. &nb

  • Kamis, 11/05/2017 06:30 WIB

    ISSI Aceh Timur Gelar Adventure Bike 2017

    ACEH TIMUR - Menjelang diselenggarakannya event Aceh Timur Adventure Bike (ATAB) 2017, panitia pelaksana dari Ikatan Sepeda Seluruh Indonesia (ISSI) Aceh Timur pada hari Rabu (10/5/2017) laksanakan

  • Kamis, 11/05/2017 03:10 WIB

    Disambar Petir, Kepala Desa di Aceh Timur Meninggal Dunia

    ACEH TIMUR - Buchari (50) Kepala Desa Matang Keupula Sa, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur meninggal dunia di sawah, usai disambar petir pada hari Rabu (10/5/2017) sekira pukul 11.30 WIB. &

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2017 wartaaceh.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir