• Home
  • Hukum
  • Menkominfo: 9.500 Situs Sebar Radikalisme Segera Diblokir

Menkominfo: 9.500 Situs Sebar Radikalisme Segera Diblokir

Oleh: Redaksi
Minggu, 20/05/2018 23:23 WIB
Dibaca: 42 kali
Foto: master.id

BATANG - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyatakan bahwa sekitar 9.500 situs yang menyebarkan radikalisme sedang dalam proses verifikasi untuk diblokir. Sebelumnya, Kemekominfo telah memblokir 2.528 situs terkait radikalisme.

"Ada 2.528 yang sampai tengah malam (sudah diblokir) dan 9.500-an yang masih dalam proses verifikasi. Saya yakin jumlahnya kini sudah lebih," kata Rudiantara di Batang, Jawa Tengah, Minggu (20/5/2018) sore.

Rudiantara mengatakan, Kementerian Kominfo hanya bertugas melakukan penindakan pada dunia maya. Sedangkan, penindakan nyata akan dilakukan oleh penegak hukum atau Polri.

"Jadi kami paralel bersama dengan Polri karena penindakan nyatanya dilakukan oleh penegak hukum. Adapun pencegahannya harus dilakukan oleh masyarakat mulai dari keluarga, sekolah, dan lingkungan." katanya. 

Menurut dia, saat ini sudah ribuan media yang menyebarkan berita provokatif telah diblok oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Seperti halnya pada situs Al Fatihin, kata dia, Kementerian Kominfo juga telah memblokir karena media itu bertentangan dengan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

"Keberadaan saya adalah tidak bisa melakukan penegakan hukum. Adapun situs yang diblokir adalah sebagian besar berasal dari Facebook, Instagram serta Youtube," katanya. 

Rudiantara meminta kepada masyarakat dan media turut serta membantu dengan memberikan informasi jika menemukan situs yang berkonten radikal. "Yang pasti pemerintah terus memperketat pengawasan di dunia maya dan akan langsung memblokir situs radikal. Kominfo dan Polri akan terus menyisir, berpatroli bersama," katanya. 

Sebelumnya, tenaga ahli Kemenkominfo, Donny Budi Utoyo mengakui, media sosial bisa menjadi sarana mendorong proses seseorang menganut radikalisme dan terorisme. "Proses mendorong orang untuk menjadi radikal, sangat mungkin terjadi di media sosial," kata Donny, dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertema 'Cegah dan Perangi Aksi Terorisme' di Kemenkominfo, Jakarta, Rabu (16/5/2018). 

Ia mengatakan, terkadang banyak orang tidak sadar sedang mengakses situs yang menyebarkan paham radikalisme atau terorisme. Sebab, tidak sedikit konten-kontennya dikemas dengan sangat bagus dan menyentuh. 

Ia mencontohkan, sekitar dua tahun lalu ada sebuah video dengan sinematografi yang bagus di Youtube berjudul Ayahku Teladanku. Ia mengatakan, video tersebut menceritakan film dokumenter tentang pelatihan perang terhadap anak usia pelajar menengah pertama. Film berdurasi sekitar 30 menit itu diawali kegiatan baris-berbaris dan beladiri yang dilakukan anak-anak. 

Kemudian, anak-anak yang selesai berlatih itu dikumpulkan dalam beberapa kelompok untuk memburu musuh. Seseorang telah menyiapkan seorang warga negara asing berkulit putih sebagai target dalam rumah kosong. Target tersebut ditempatkan pada satu titik dengan kondisi mata tertutup. Kemudian, anak-anak yang menemukan target harus mengeksekusinya. 

"Ternyata, ini video ISIS. Menariknya, sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya," ujar Donny.

Sumber: republika.co.id

T#g:Blokir SitusMenkominfoRadikalisme
Berita Terkait
  • Rabu, 06/06/2018 10:01 WIB

    Kemristekdikti akan Awasi Nomor HP dan Akun Medsos Mahasiswa

    JAKARTA - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengungkapkan, akan melakukan monitoring kepada para dosen dan mahasiswa menyusul maraknya temuan radikalisme d

  • Jumat, 18/05/2018 22:45 WIB

    Seluruh Pemangku Kebijakan di Daerah Harus Siaga dan Waspada

    JAKARTA - Usai bertemu dengan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Djoko Setiadi, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sempat ditanya para wartawan tentang surat edaran tentang kesiapsiagaan yang

  • Jumat, 18/05/2018 22:10 WIB

    Menristekdikti: Jika Ada Dosen yang Terlibat Radikalisme Harus Mengundurkan Diri

    CIREBON - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menegaskan, dunia pendidikan tinggi tidak boleh terjadi paham radikalisme dan intoleransi. Jika ada civitas akad

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2018 wartaaceh.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    Karir