• Follow Us:
Published On: Wed, Apr 25th, 2012

Ranup Sigapu yang Terlupakan

*Oleh: Asmal Husna.

Siang itu udara di kota Krueng Geukueh, sangatlah tidak bersahabat. Panas, menyengat. Matahari seolah-olah hanya sejengkal dari kepala dan membakar ubun-ubun. Belum lagi polusi yang dihasilkan oleh knalpot-knalpot kendaraan dan juga dari cerobong asap pabrik industri. Tidak hanya itu, di-traffic light simpang empat kota begitu mudahnya kita temui orang-orang yang tidak taat lalu lintas. Menerobos seenaknya dan sumpah serapahpun seolah menjadi hal yang lumrah. Dan itupun semakin membuat suasana terasa semakin gerah.

Hari itu, Minggu 13 April 2012, saya pun harus merasakan suasana seperti yang saya ceritakan di atas tadi. Ya, walau kondisi tidak mengenakkan tapi saya harus mengantar kakak saya pergi belanja. Dalam waktu lebih kurang sepuluh menit, saya pun tiba ditujuan, sebuah pasar tradisional. Ramai, karena memang hari pekan. Hiruk pikuk penjual yang menjajakan dagangannya pun menjadi pemandangan biasa. Suara kokok ayam yang dibawa ‘mugee’ (toke) dan bau amis ikan menjadi ciri khas sebuah pasar tradisional. Ya, dimana-mana pasar tradisional seperti itu.

Setelah memarkir sepeda motor, saya pun membuntuti langkah kaki kakak menyusuri pasar tradisonal itu. Mata saya pun merayapi setiap sudut pasar itu. Walau tetap semangat menjajakan dagangannya, wajah-wajah lelah penjual tergambar jelas. Tapi diantara penjual-penjual yang dengan semangatnya mengajak pembeli untuk singgah, di emperan toko mata saya menangkap wajah seorang nenek yang hanya diam menunggu pembeli mendatanginya. Ranup sigapu (sekapur sirih) adalah yang dijual nenek itu. Ya, hanya ranup (sirih).

Mulia jamee ranup lam puan, mulia rakan mameh suara (memuliakan tamu dengan menyuguhkan sirih. Memuliakan sahabat lewat tutur kata yang manis).”  Dua bait syair Aceh itu menggambarkan tentang makna sirih (ranup) dalam adat istiadat Aceh. Hingga ‘Ranup’ dikreasikan dalam satu tarian khas Aceh, Ranup lampuan. Tari itu sebagai simbol pemuliaan terhadap tamu. Ranup sigapu juga sering kita baca dalam banyak buku yang bermakna sebagai permulaan. Artinya, ranup menjadi symbol prosesi atau mengawali sebuah kegiatan, esensi ranup dalam adat Aceh sebagai sikap menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan kerukunan hidup yang dilengkapi dalam satu wadah disebut Puan.

Dalam manuskrip adat Aceh, perangkat ranup selalu dipergunakan dalam upacara-upacara kebesaran Sultan. Pemeriahan arak-arakan raja dari istana sampai Mesjid Baiturrahman. Tapi jauh sebelum itu, ranub menjadi suguhan wajib bagi tamu yang disediakan oleh setiap tuan rumah, tidak hanya sebatas dalam rangka acara.

Rasa iba saya pun muncul, lalu menghampiri nenek yang hanya seorang diri itu. Beginilah, saya tidak bisa melihat seorang yang sudah tua masih harus bekerja karena kerasnya tuntutan hidup. Sulit rasanya membayangkan jika yang duduk menjual ranup itu adalah ibu saya. Tidak teganya rasanya melihat ibu saya diabaikan begitu saja oleh pembeli. Akhirnya, sayapun memutuskan untuk membeli beberapa ranup yang dibungkus kecil-kecil itu, tanpa tahu untuk apa saya membelinya. Mungkin ibu saya mau mencobanya.

Piyoeh cucoe (singgah cucu)”, sapanya dengan dengan senyum sumringah ketika melihat saya menghampirinya. Hmm… begitu bersahabat. Sapaannya mengingatkan saya pada lirik lagu seorang seniman Aceh, Rafli. Piyoh…… piyoh…Neucok ranup nyopat hai. Ranup neu pajoh tanda mulia. (singgah…singgah. ambil sirih di sini. Sirih dimakan tanda mulia).

Tiaisyah (65), nenek itu bernama. Guratan wajah nek Ti (sapaan akrabnya) hari itu terlihat begitu lelah. Peluh mulai menetes di keningnya, yang kemudian disekanya dengan ujung selendang yang dikenakannya. Mulutnya merah karena dipenuhi ranup yang terus dikunyahnya.  Garis-garis diwajahnya pun semakin jelas dan rambutnya yang sudah ubanan, menunjukkan betapa waktu tidak mampu melindunginya dari usia. Dan karena tuntutan hidup pun, yang mengharuskan nek Ti tetap bekerja walau telah dimakan usia. Dan kini, 20 tahun sudah nek Ti menjalani profesinya sebagai seorang penjual ranup. Walau sejujurnya, ia hanya ingin menikmati masa tuanya bersama anak dan tiga belas cucunya. Tapi semenjak ditinggal pergi suaminya yang telah meninggal itu, nek Ti memilih berjualan ranup untuk bertahan hidup.

Hari itu nek Ti mengenakan baju kurung warna merah tua, kain sarung, dan selendang yang tersampir begitu saja di kepalanya. Semuanya sudah kelihatan lusuh. Untuk menjajakan ranup, nek Ti hanya membutuhkan sebuah meja tua untuk menaruh daun sirih, pinang, dan pelengkap  ranup lainnya. Di bawah mejanya, seekor kucing kurapan sedang tidur. Mungkin ingin menemani nek Ti berjualan. Saya pun disambutnya dengan senyuman hangat dan tatapan matanya yang begitu teduh, menyuruh saya duduk di sampingnya. Ya, nek Ti telah mempraktekkan apa makna ranub sigapu yang dijualnya itu, peumulia jamee (memuliakan tamu). Walaupun saya bukan tamu resminya waktu itu.

Sambil menunggu kakak selesai berbelanja, saya pun terlarut dalam perbincangan dengan nek Ti. Dan percakapan kami pun seluruhnya berlangsung dalam bahasa Aceh. Selama ini, saya hanya mendengar dan melihat saja bagaimana ranup itu. Tapi dari nek Ti saya jadi tahu banyak hal tentang ranup. Ternyata ranup sigapu yang terdiri dari daun sirih, pinang, kapur, kencur, cengkeh dan gambir itu masing-masingnya mempunyai makna tersendiri.

Ranup dalam ranah adat dan budaya Aceh menjadi simbol kemuliaan (pemulia jamee), penenang dalam menyatukan pendapat dalam suatu musyawarah (sapeu kheun ngon buet), dan penyambung silaturrahmi sesamanya (meu-uroh). Ranup melambangkan sifat rendah hati dan cinta kasih. Pinang melambangkan baik budi pekertinya dan jujur serta memiliki derajat yang tinggi. Gambir melambangkan keteguhan hati, Kapur melambangkan ketulusan hati. Cengkeh melambangkan keteguhan memegang prinsip, dan Tembakau sebagai pelengkappun melambangkan hati yang tabah dan bersedia berkorban dalam segala hal. Tapi kini, masihkah itu ada ?

“Tapi jinoe nyan hana le bak ureung geutanyoe (tapi sekarang itu tidak lagi ada pada orang kita),” ujar nek Ti yang dari suaranya terdengar sedikit kecewa. Nek Ti juga menceritakan bahwa dulu di setiap rumah, ranup dan tika duek (tikar duduk) sudah tersedia di seramoe (serambi rumah). Jadi siapapun tamu yang datang ia disuguhi ranup sigapu oleh tuan rumah sebagai suatu bentuk peumulia jamee. Kemudian setelah itu, barulah nasi dihidangkan. Tapi hari ini, itu tidak lagi kita temui kecuali di rumah-rumah orang tua dulu yang masih menjaga nilai-nilai ke-acehannya.

Menyoe ureung jinoe, keu jamee tika plaseutik di leung. Tika duek tan, ranup han. Jiyue duek laju lage na (kalau orang sekarang, untuk tamu tikar plastik digelar. Tikar pandan tidak ada, sirih juga tidak ada. Disuruh duduk terus begitu),” ujar nek Ti dengan logat Acehnya yang masih kental. Nek Ti juga menuturkan kalau dulu orang Aceh, untuk mempersilahkan tamu masuk ke dalam rumah menggunakan kata “neu langkah”. Tapi hari ini lebih banyak yang menggunakan kata “tameung”. Walaupun sama-sama mempunyai arti “masuk”, tapi kata “neu langkah” dinilai lebih sopan dari kata “tameung” itu sendiri.

“Jinoe bek na’an ranup, menyou hana perle that meu jiyue tameung han. Bak pinto jiyue preh (sekarang jangankan ranub, kalau tidak terlalu berkepentingan disuruh masuk pun tidak. Di depan pintu disuruh tunggu),” ujar nek Ti dengan raut wajah yang sedikit sedih. Beliau juga mengatakan kalau sekarang ranup biasanya hanya digunakan untuk acara-acara, seperti pesta perkawinan.

Sedang asyik-asyiknya mendengar penuturan nek Ti, sejurus kemudian datanglah seorang ibu paruh baya yang ingin membeli ranup. Nek Ti menyapanya dengan sebutan bu Cut dan bertanya dalam rangka apa membeli ranup. “Anak saya mau nikah,” jawab bu Cut. Baru saja beberapa menit yang lalu nek Ti menuturkan tentang hal itu. Dan memang terbukti, kini ranup hanyalah pelengkap suatu acara, bukan lagi sebagai persediaan dirumah. Esensi atau makna ranup sigapu bagi orang Aceh, perlahan kini mulai memudar. Nek Ti pun hanya bisa manggut-manggut mendengar jawaban bu Cut. Mungkin ada baiknya jika penggalan lirik lagu Rafli kembali kita dendangkan.

Piyoh…… piyoh…
Neucok ranup nyopat hai
Ranup neu pajoh tanda mulia
Peunajoh aceh meu macam bagoe
Peunajoh jameun sampo inoe hat
Ranup seulaseh ngon pineung maweo
Gapu ngon gambee lengkap keu syarat
Ranup lam bate peumulia jamee
Adat geutanyo keu jame teuka
Neu ci pajoh sigapu ile
ie ranup klat jeut keu peunawa
Piyoh piyoh piyoh….. piyoh
Neucok ranup nyo pat hai
Ranup neu pajoh beujet keu ubat

Semoga lirik itu tidak hanya menjadi hiburan, tapi memberi pemaknaan bagi masyarakat Aceh yang mulai (sedikit) lupa akan adat istiadatnya dan makna dari ranup itu sendiri. Dan saya pun beranjak pulang.[]

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unimal