• Follow Us:
Published On: Sun, May 19th, 2013

Harga BBM naik, angka kemiskinan bertambah

Petugas mengisi BBM di SPBU Kuningan, Jakarta. (Foto: tempo.co)

Jakarta – Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan mendorong naiknya harga, termasuk harga kebutuhan pokok masyarakat. Hal ini dikhawatirkan berimpilkasi terhadap meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia.

Guna menekan bertambahnya angka kemiskinan di Indonesia, pemerintah menyiapkan paket kompensasi, termasuk Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Paket bantuan ini ditujukan untuk melindungi masyarakat yang paling rentan terhadap dampak kenaikan harga BBM.

“Tanpa BLSM dan paket kompensasi, setiap kenaikan BBM bersubsidi jenis premiun sebesar Rp1.500 per liter, menurut Kementerian Keuangan angka kemiskinan 2013 akan meningkat sebesar 2,61 persen ditambah baseline 2013 sebesar 10,5  persen, maka angka kemiskinan mencapai 13,11 persen,” kata Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah seperti dikutip dari situs resmi Setkab, Ahad (19/5/2013).

Namun, adanya BLSM dan paket kompensasi, maka angka kemiskinan dapat ditekan, yakni hanya bertambah 0,72 persen dari baseline 10,5 persen di 2013, sehingga hanya akan menjadi 11,22 persen.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu menjelasakan, berdasarkan pengalaman Indonesia menaikkan dan menurunkan harga BBM bersubsidi pada 2005 hingga 2009 akibat lonjakan harga minyak dunia yang menekan kesehatan fiskal menyebabkan harga bahan pokok melambung tinggi, terutama beras.

Pada saat itu, harga BBM bersubsidi dinaikkan dari harga Rp1.810 per liter menjadi Rp4.500 per liter (dua kali kenaikan). Sementara dampak naiknya harga beras sebagai respon kenaikkan harga BBM, yang kemudian berdampak pada meningkatnya angka kemiskinan pada 2006 menjadi 17,75 persen dibanding tahun sebelumnya 15,97 persen.

Pada 2008, pemerintah kembali menaikkkan harga BBM bersubsidi sekali dan menurunkan harga sebanyak dua kali. Paska kenaikan sepanjang 5-6 bulan, inflasi terus meningkat dan mencapai 11,06 persen sepanjang 2008. Kemudian, pada 15 Januari 2009, pemerintah kembali menurunkan harga BBM bersubsidi beberapa kali dan menjadi Rp.4.500 per liter.

“Pada saat kenaikan harga BBM, harga-harga kebutuhan melambung tinggi. Tetapi ketika harga BBM diturunkan tiga kali pada tahun 2008 dan awal 2009, dari Rp6.000 menjadi Rp5.500, turun lagi menjadi Rp5.000, kemudian Rp4.500, ternyata harga-harga tiduk ikut turun,” ungkap Firmanzah.[sindonews.com]