• Follow Us:
Published On: Wed, Feb 19th, 2014

Kebangkitan PT Dirgantara Indonesia Kian Terasa

PT DI Siap Rampungkan 18 Pesawat Tahun IniBandung - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai produsen pesawat dan helikopter PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sempat divonis pailit oleh Pengadilan Tata Usaha Negara pada September 2007 silam, tidak hanya itu, perusahaan yang bermarkas di Bandung juga telah merumahkan belasan ribu karyawannya. Kini PTDI mulai bangkit perlahan-lahan dan mendapat angin segar dari pemerintah.

Dilansir inilah.com, suntikan modal sebesar Rp 1,4 triliun oleh pemerintah pada 2012, berhasil membuat PTDI meraih laba sebesar Rp 10,272 miliar pada tahun 2013 lalu. Selain itu PTDI didukung oleh kebijakan pemerintah melalui Perpres 42/2010 tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), sehingga praktis PTDI menjadi prioritas dalam memasok pesawat dan helikopter untuk TNI.

“Pada tahun ini kami optimis bisa meraih laba menjadi Rp 66,546 miliar,” ujar Budiman Saleh, Direktur Komersial dan Restrukturisasi PTDI di Bandung beberapa waktu lalu.

Budiman mengatakan, PTDI akan memfokuskan bisnisnya pada pasar alat utama sistem persenjataan atau alutsista, yakni sebesar 80%.

Selama 20 tahun terakhir PTDI telah membuat banyak pesawat dan senjata, baik untuk ekspor maupun untuk kepentingan di dalam negeri.

Selain itu, PTDI memperoleh kontrak dan penjualan dari lini bisnis jasa pembuatan komponen pesawat dan helikopter (aerostructure), jasa perawatan pesawat (aircraft services), serta teknologi dan pengembangan.

Awal 2011, perusahaan plat merah yang berdiri 34 tahun lalu ini memenangi tender pengadaan empat pesawat penjaga pantai untuk Korea Selatan senilai US$ 94,5 juta. Pada bulan yang sama, Eurocopter Group (anak perusahaan dari aliansi strategis industri kedirgantaraan Eropa, EADS) mempercayakan PTDI membuat komponen fuselage (badan utama) dan tailboom (bagian ekor) helikopter seri EC-225 Super Puma dan EC-725 Cougar. Total order 125 unit hingga 2020.

Pertengahan Juli 2011, PTDI menandatangani memorandum of understanding dengan Korea Selatan untuk memproduksi pesawat tempur KF-X. Jet tempur generasi baru yang diklaim lebih andal ketimbang F-16, tapi masih di bawah F-35 buatan Lockheed Martin.

Anggaran untuk proyek strategis tersebut mencapai US$ 8 miliar dengan jangka waktu kerja sama hingga 2020. PTDI akan menanggung 20% pembiayaan dan Indonesia menyanggupi membeli 50 dan 200 unit pesawat tersebut.

Ke depan, PTDI fokus melakukan jasa engineering dan pengembangan program pesawat jet tempur KFX/IFX dan pesawat N219. Serta melakukan pengembangan pesawat lama, yakni CN235 Next Generation (N245) dan pesawat NC212i.[]