• Follow Us:
Published On: Sat, Oct 6th, 2012

Guru Besar Bidang Olahraga di Indonesia Baru 30 Orang

Semarang – Sekretaris Forum Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) se-Indonesia Harry Pramono menyebutkan jumlah guru besar bidang olahraga di Indonesia saat ini masih sepersepuluhnya China.

“Kalau mau dikumpulkan seluruh guru besar olahraga di Indonesia sekarang ini hanya 30 orang lebih sedikit, sementara China memiliki 300 guru besar bidang itu. Jauh sekali perbedaannya,” kata Dekan FIK Universitas Negeri Semarang itu, usai “International Seminar on Sport Science 2012,” Sabtu (6/10/2012).

Ia mengungkapkan pakar bidang olahraga turut memengaruhi majunya prestasi olahraga suatu negara karena perkembangan olahraga tidak bisa dipisahkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Untuk mencetak olahragawan-olahragawan yang berprestasi bergantung pada kualitas pendidikan yang diberikan. Secara keilmuan, jauh sekali kalau kita mau mengejar China. Pakar olahraganya sangat banyak,” katanya.

Menurut dia, kecenderungan yang terjadi di Indonesia menganggap olahraga hanya berkaitan dengan prestasi, sementara pengembangan sisi akademis atlet dikesampingkan, termasuk motivasi atlet dari sisi akademis.

“Kalau atlet sudah berprestasi di bidang olahraga, ya sudah olahraga saja, pendidikannya nomor dua. Padahal, seharusnya tidak seperti itu. Atlet-atlet yang berprestasi juga harus dimotivasi dalam akademis,” katanya.

Karena itu, kata dia, kalangan perguruan tinggi, termasuk Unnes terus mendorong para atlet untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, salah satunya melalui pemberian beasiswa studi lanjut.

Sementara itu, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Prof Djoko Pekik Irianto mengatakan tengah memetakan akademisi-akademisi olahraga Indonesia.

“Tidak hanya cukup ahli bidang olahraga, itu masih umum. Banyak sekali, misalnya biomekanika, psikologi, tentunya dalam keolahragaan. Kami juga mendorong mereka untuk memperdalam ilmunya lewat pendidikan lanjut,” katanya.

Ia mengatakan tawaran studi lanjut dari luar negeri banyak, beasiswa untuk studi juga banyak, apalagi sudah terjalin kemitraan dengan negara-negara lain dalam pendidikan, seperti Korea Selatan, Jepang, dan China.

“Peran perguruan tinggi ini mengedukasi para atlet untuk mengubah pola pikirnya bahwa skill (keterampilan) saja tidak cukup, harus punya modal lain. Terampil dalam bidang olahraga ya, tetapi harus juga `pinter`,” kata Djoko[antara]